Selanjutnya menggarap positioning buku ini. Yang membedakan buku “Master 18” adalah semangat nasionalisme, sisi ini yang harus muncul dan harus terus hidup. Semua orang kini berada dalam titik jenuh akan identitas “ke-Indonesia-an” dan ini merupakan insight yang sangat bagus untuk digunakan memperkuat positioning buku ini. Maka makin dilekatkanlah aspek nasionalisme yang nantinya saya bawa juga ke acara peluncuran bukunya, tanggal 1 Oktober 2011 bertepatan dengan hari nasional. Memetakan positioning buku adalah pekerjaan yang harus dan tidak bisa tidak diabaikan kalau mau publikasi buku “Master 18” ini berjalan dengan baik. Sekarang tinggal menentukan diferensiasinya dan kelompok pembaca pendukung.

Saya memiliki keuntungan dengan dengan teman-teman pembaca yang muda dan penuh semangat. Satu kelebihan dari kelompok pembaca ini adalah potensi mereka untuk menjadi kelompok sekuat Kirkus Review di luar negeri. Potensi ini harus ditemukan lebih dulu memang, tetapi saya yakin embrio generasi kritikus buku baru sudah ada, tinggal memolesnya. Tantangannya besar dan saya yakin teman-teman ini mampu mengatasinya dengan keterbukaan mereka.

Lewat korespondensi akhirnya saya yakinkan buku motivasi ini tidak akan mengecewakan mereka sebagai pembaca awal. Dan betul saja, kejujuran para penulis review ini membuat saya yakin langkah strategis saya sudah tepat. Kita tinggal menunggu percepatannya saja.

Formula percepatan ini dimulai dari peluncuran buku itu sendiri. Diselenggarakan di Newseum Cafe, yang dimiliki oleh budayawan terkenal Taufik Rahzen, tokoh di balik penyelamatan gedung Indonesia Menggugat yang secara luar biasa justru salah satu pendorong sukses publikasi peluncuran buku “Master 18” tempo hari. Segala sesuatu sudah disiapkan, tinggal melihat apakah saya bisa melampaui titik psikologis buku ini.

Leave a comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *

%d bloggers like this: