New Media, New Hope for Indonesian Booklovers

Selagi masyarakat kita masih berdebat soal perlu tidaknya BBM naik, singgahlah ke toko-toko buku dan perhatikan ada kenaikan harga buku. Sepertinya fakta ini juga masih belum diperhatikan oleh para pembaca buku yang bergabung di komunitas-komunitas literasi yang ada. Semua masih terhenyak, harga BBM naik ataupun tidak, ternyata harga barang-barang pokok sudah keburu naik. Tetapi kalaupun mereka mendapati harga buku naik, apa yang bisa diperbuat selain menelannya bulat-bulat.

Buku mahal itu cerita lama. Penulis tidak sejahtera apalagi, itu berita basi. Seolah kenyataan-kenyataan yang berseliweran sehari-hari itu akhirnya dibiarkan begitu saja tanpa pernah benar-benar dicarikan solusi. Bagi pembaca kebanyakan (bukan Anda yang sejahtera dan tak kesulitan dengan uang) terutama yang berdomisili di luar Jakarta, atau bahkan luar pulau Jawa, kenaikan harga buku akan membuat buku sebagai sumber ilmu semakin sulit dijangkau. Prioritas mereka akan tertuju pada pemenuhan kebutuhan perut. Sedangkan untuk membeli buku yang harga psikologisnya sekarang berada di atas Rp 70.000 untuk buku dengan ketebalan 300 halaman barangkali hanya bisa dilakukan satu kali saja sebulan. Penerbit tidak mau pusing-pusing, selama masih ada orang yang membeli buku-buku seharga bandrol mereka itu. Sedang pemerintah akan cukup sibuk menyiapkan stigmatisasi yang berulangkali dikatakan: daya baca masyarakat rendah, tanpa pernah mencoba mencari akar permasalahannya dari buku yang semakin tidak ter-akses karena daya beli rendah, ketersediaan karena distribusi tidak merata, dan tidak ada infrastruktur yang mendukung (jalan, gedung perpustakaan, pajak, insentif dll).

Topik “Turunkan Harga Buku…” di Goodreads Indonesia

Tanggal 19 Juni 2008, para pembaca di komunitas pembaca aktif Goodreads Indonesia mencuatkan sebuah diskusi bertajuk: “Turunkan harga buku…” yang langsung mengundang banyak respon. Hingga hari ini, 4 tahun sesudahnya, obrolan itu masih kontekstual. Banyak orang urun rembuk, tapi TANPA SOLUSI. Benarkah tidak ada solusi untuk masalah ini?

Pencarian Solusi
Tahun 2009, saya dipanggil oleh seorang inventor/penemu. Andy Ferbson, namanya. Dia penemu sekaligus pemilik paten “ReadRite Loose-Leaf”. Pepson yakin, ini adalah solusi terhadap masalah “buku yang mahal”. Apa itu ReadRite? Saya memperhatikan bahwa sebenarnya ini lembar-lembar notes kosong yang diisi seperempat bagiannya dengan buku. Bisa buku apa saja. Gramedia yang bekerjasama dengan ReadRite misalnya, menggunakan ReadRite untuk diisi buku kumpulan resep, motivasi, dll.

Contoh ReadRite Loose-Leaf

Saya suka gagasannya. Terobosan ReadRite Loose Leaf betul-betul mantap, karena harga buku bisa ditekan seharga Rp 7.000-10.000 saja. Tetapi berapa daya serapnya? Berapa yang membeli karena betul-betul ingin membaca buku, bukan karena ingin mencatat.

Alih-alih, pada pelaksanaan World Book Day tahun 2009 saya mengusulkan ke dalam komunitas pembaca aktif Goodreads Indonesia untuk menggalakkan gerakan ‘tukar buku’ (bookswap). Paling tidak solusi ini terukur efektivitasnya dari setiap penyelenggaraan bookswap internal hingga kelas kakap di setiap penyelenggaraan Festival Pembaca Indonesia.

Kalau setiap Festival Pembaca Indonesia ada lebih dari 1.000 buku bisa ditukar gratis, maka saat itu juga ada 1.000 solusi yang sudah diberikan kepada para pengunjung yang menukarkan buku yang dibelinya dengan mahal.

Perhitungannya mudah: dengan uang yang dipakai untuk membeli, pelaku tukar buku bisa dapat 2 buku yang sama bagusnya. Itu kalau dia bawa 1, bayangkan kalau hari itu, pelaku membawa satu tas besar berisi 10 buku. Maka berlipat-lipatlah solusi yang diberikan. Tapi apakah cukup?

Solusi Baru
Sejak tahun 2008, saya mencermati hal baru. Pertumbuhan buku-elektronik (ebooks) yang semakin marak. Tapi saya waktu itu memberi pernyataan “digitalisasi buku” memang tak terbantahkan, tetapi masyarakat Indonesia belum siap. Isinya bisa dibaca di: Jakarta Post, 14 Maret 2010 Kemudian pada tahun 2011, saya ajukan apa yang membuat pembaca tidak mau mengunduh buku-buku elektronik (ebooks) salah satu sebabnya adalah ketidaknyamanan membaca lewat mobile phone. Kalau lewat Kindle/perangkat lain okelah. Wah itu sama saja bukan solusi! Berapa harga Kindle?

Tetapi bibit solusi baru, saya temukan pada tahun 2011. Jawabannya ada di terobosan New Media. Ini yang sedang saya upayakan dan pada saat ini, saya sudah menemukan mitra sinergi yang tepat: Sony Set Tulisannya di http:\\tvlab.blogspot.com tentang sinergi New Media ini bisa dibaca di: http://tvlab.blogspot.com/2012/03/new-media-digital-mobile-applcation.html

Semoga proses penemuan solusi baru ini segera bisa dinikmati oleh banyak orang di Indonesia dalam waktu dekat. Ini janji yang saya ucapkan ke publik dan semoga saya bisa menepati janji ini.

Related Articles

Leave a comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *

%d bloggers like this: